Kamis, 23 Januari 2014

Resolusi Mpok Ti [2]

Sepulang sekolah aku langsung masuk kamar. Bosan hari kemarin masih menemaniku. Tak lama, kamarku diketuk, saat terbuka aku lihat Mpok Ti berdiri di dekat pintu.

“Kenapa berdiri di depan pintu gitu sih?”

“Nggak ah, nggak mau deket-deket.”

“Lalu ngapain ketuk kamar terus cuma berdiri doang di depan pintu?” aku jadi nyolot.

“Ditunggu Ibu di ruang makan, Ibu pulang bawa sate ayam,” jawab Mpok Ti datar. Kali ini tidak menatapku. Ini kenapa sih? Nggak tau apa aku lagi bosan dan itu membuatku gampang naik darah? Biasanya Mpok Ti masuk kamar dan segera beberes kalau ada yang tak beres, meski disertai omelan sayang. Maklum, Mpok Ti sudah mengasuhku sejak bayi. Jadi, rasa sayangnya padaku sudah melekat.

“Ya udah, nanti aku turun,” jawabku ketus.

Lalu, tanpa menutup pintu kamar, hal yang tak pernah dilakukannya, Mpok Ti meninggalkan kamarku. Aku mengejarnya.

“Mpok Ti!” panggilku cepat. Mpok Ti berhenti, berbalik menatap aku.

“Kenapa sih, aneh bener kelakuannya?”

“Kok jadi Mpok Ti yang dibilang aneh? Emang Adek enggak?”

Aku kaget. Kok jadi aku yang disalahkan?

“Siapa yang pulang sekolah marah-marah. Nggak mau makan. Ditanya jawabnya cuma bosan. Ditawari teh, bilangnya bosan. Bosan. Bosan. Mpok Ti juga jadi bosan ngomong sama Adek,” jawab Mpok Ti panjang dan tenang.

Aku terpana.

“Minggu depan sudah tahun 2012, kalau mau berubah, berubah yang baik dong,” nadanya tetap datar.

Gila. Ini gila! Ini buka Mpok Ti! Mpok Ti ku nggak hobi bicara, jadi nggak mungkin bisa bicara begitu panjang!

“Sekarang Mpok Ti harus bicara kalau Adek nakal. Ini resolusi Mpok Ti. Kemarin Mpok diajarin Mas Adit bikin resolusi. Kata Mas Adit, mulai sekarang, kalau dimintai pendapat atau kalau ada yang nggak bener, Mpok harus bicara. Jadi kalau ditanya Ibu mau masak apa, jangan bilang terserah, tapi harus punya usul. Punya pendapat harus dikeluarkan dengan jelas, tenang dan sopan. Disetujui atau ditolak itu soal belakangan. Ibu juga sudah setuju sama resolusi Mpok ini. Ibu senang karena Mpok Ti sudah bisa diajak diskusi.”

Apa dia bilang? Kalau aku nakal? Terus, Mas Adit? Ngapain juga kakakku itu ngajarin resolusi ke Mpok Ti?

“Karena  Adek lagi nakal kayak sekarang, Mpok harus bilang kalau Adek cemberut dan bilang bosan terus, nggak cuma bikin cantiknya ilang. Orang sekitar juga jadi males ngomong sama Adek. Mpok aja udah males, apalagi temen-temennya Adek,” kata Mpok Ti tanpa emosi, lalu berbalik meninggalkan aku menuju dapur.

Saat masih bengong, Mas Adit keluar dari ruang dapur sambil membawa setusuk sate ayam di tangan kirinya.

“Makanya jangan nakal lagi. Bilang bosan, bosan nggak jelas. Ntar diomelin Mpok Ti, lho. Apa resolusi lo? Jangan kalah sama  Mpok Ti, dong,” katanya sambil mengedipkan mata kirinya.

Aku masih terpana. Mpok Ti punya resolusi? Oh, la la, aku merasa seperti di dunia lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kamis, 23 Januari 2014

Resolusi Mpok Ti [2]

Sepulang sekolah aku langsung masuk kamar. Bosan hari kemarin masih menemaniku. Tak lama, kamarku diketuk, saat terbuka aku lihat Mpok Ti berdiri di dekat pintu.

“Kenapa berdiri di depan pintu gitu sih?”

“Nggak ah, nggak mau deket-deket.”

“Lalu ngapain ketuk kamar terus cuma berdiri doang di depan pintu?” aku jadi nyolot.

“Ditunggu Ibu di ruang makan, Ibu pulang bawa sate ayam,” jawab Mpok Ti datar. Kali ini tidak menatapku. Ini kenapa sih? Nggak tau apa aku lagi bosan dan itu membuatku gampang naik darah? Biasanya Mpok Ti masuk kamar dan segera beberes kalau ada yang tak beres, meski disertai omelan sayang. Maklum, Mpok Ti sudah mengasuhku sejak bayi. Jadi, rasa sayangnya padaku sudah melekat.

“Ya udah, nanti aku turun,” jawabku ketus.

Lalu, tanpa menutup pintu kamar, hal yang tak pernah dilakukannya, Mpok Ti meninggalkan kamarku. Aku mengejarnya.

“Mpok Ti!” panggilku cepat. Mpok Ti berhenti, berbalik menatap aku.

“Kenapa sih, aneh bener kelakuannya?”

“Kok jadi Mpok Ti yang dibilang aneh? Emang Adek enggak?”

Aku kaget. Kok jadi aku yang disalahkan?

“Siapa yang pulang sekolah marah-marah. Nggak mau makan. Ditanya jawabnya cuma bosan. Ditawari teh, bilangnya bosan. Bosan. Bosan. Mpok Ti juga jadi bosan ngomong sama Adek,” jawab Mpok Ti panjang dan tenang.

Aku terpana.

“Minggu depan sudah tahun 2012, kalau mau berubah, berubah yang baik dong,” nadanya tetap datar.

Gila. Ini gila! Ini buka Mpok Ti! Mpok Ti ku nggak hobi bicara, jadi nggak mungkin bisa bicara begitu panjang!

“Sekarang Mpok Ti harus bicara kalau Adek nakal. Ini resolusi Mpok Ti. Kemarin Mpok diajarin Mas Adit bikin resolusi. Kata Mas Adit, mulai sekarang, kalau dimintai pendapat atau kalau ada yang nggak bener, Mpok harus bicara. Jadi kalau ditanya Ibu mau masak apa, jangan bilang terserah, tapi harus punya usul. Punya pendapat harus dikeluarkan dengan jelas, tenang dan sopan. Disetujui atau ditolak itu soal belakangan. Ibu juga sudah setuju sama resolusi Mpok ini. Ibu senang karena Mpok Ti sudah bisa diajak diskusi.”

Apa dia bilang? Kalau aku nakal? Terus, Mas Adit? Ngapain juga kakakku itu ngajarin resolusi ke Mpok Ti?

“Karena  Adek lagi nakal kayak sekarang, Mpok harus bilang kalau Adek cemberut dan bilang bosan terus, nggak cuma bikin cantiknya ilang. Orang sekitar juga jadi males ngomong sama Adek. Mpok aja udah males, apalagi temen-temennya Adek,” kata Mpok Ti tanpa emosi, lalu berbalik meninggalkan aku menuju dapur.

Saat masih bengong, Mas Adit keluar dari ruang dapur sambil membawa setusuk sate ayam di tangan kirinya.

“Makanya jangan nakal lagi. Bilang bosan, bosan nggak jelas. Ntar diomelin Mpok Ti, lho. Apa resolusi lo? Jangan kalah sama  Mpok Ti, dong,” katanya sambil mengedipkan mata kirinya.

Aku masih terpana. Mpok Ti punya resolusi? Oh, la la, aku merasa seperti di dunia lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar